Tips Menjaga Hafalan
Tips
Menjaga Hafalan
Apakah setelah hafal 30 juz tugas Anda sudah selesai? Tentu tidak. Justru tanggung jawab Anda semakin besar, yaitu untuk mempertahankan apa yang telah Anda hafal serta berupaya keras menjaga hafalan agar tidak hilang. Jangan biarkan hafalan yang sudah diperjuangkan sekian lama hilang sia-sia.
“Jagalah Al-Qur’an karena dia lebih cepat lepas dari hati seseorang daripada unta yang lepas dari talinya. (HR.Ahmad)
Mempertahankan hafalan Al-Qur’an tidaklah mudah. Seperti yang disampaikan oleh sebagian huffazh “Menghafalkan itu mudah, menjaga hafalannya yang sulit.” Oleh karenanya diperlukan usaha maksimal supaya hafalan tetep melekat di otak.
“Barang siapa yang membaca Al-Qur’an , kemudian melupakannya, maka dia akan bertemu Allah pada hari kiamat dalam keadaan bunting.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Ada sebagian orang yang salah kaprah; mereka enggan menghafal Al-Qur’an dengan dalih takut berdosa kalau lupa. Padahalyang berdosa bukan karena lupa tapi melupakan. Lupa dan melupakan itu berbeda. Lupa, biasanya tidak disertai unsur kesengajaan sedangkan melupakan ada unsur kesengajaanya. Melupakan berlaku untuk semua yang pernah menghafalkan Al-Qur’an, baik satu-dua surah, 30 juz, atau satu ayat sekalipun. Jadi bukan dikhususkan bagi yang pernah hafal 30 juz.
Sesungguhnya hilangnya hafalan merupakan musibah yang harus diwaspadai. Hilangnya hafalan adalah masalah besar yang tidak boleh dianggap enteng. Seberapa pun hafalan yang Anda miliki maka itu sangat berharga dan bernilai besar bila anda istiqamah menjaganya.
Ada beberapa tips supaya hafalan tetap terjaga. Mudah-mudahan Allah membantu kita semua dalam menjaga firman-Nya.
- Hindari Maksiat
Nasehat emas ini saya khususkan untuk diri saya yang sedang berusaha keras keluar dari genangan dosa dan tumpukan kemaksiatan, juga untuk para pembaca umumnya. Semoga Allah mengampuni. Aamiin.
Pada dasarnya bermaksiat dilarang bagi semua orang. Akan tetapi penghafal Al-Qur’an harus lebih waspada karena penghafal Al-Qur’an sedang diamanahi Allah untuk menjaga firman-Nya, sehingga ia wajib menjaga Al-Qur’an dari segala sesuatu yang mengotorinya. Termasuk kemaksiatan. Kemaksiatan berdampak buruk pada hafalan. Tidak satu ayat pun yang hilang kecuali pasti dikarenakan maksiat kepada Allah Swt.
Imam Syafi’i berkata, “Aku pernah mengadu kepada guruku tentang buruknya hafalanku, maka beliau memberitahuku untuk meninggalkan maksiat.”
Yahya bin Yahya berkata bahwa pernah ada seseorang yang bertanya kepada Imam Malik Bin Anas, “Wahai Abu Abdillah, adakah sesuatu yang bisa menjadikan hafalan lebih baik?” Beliau menjawab, “Jika ada sesuatu yang memperbaiki hafalan, maka itu adala dengan meninggalkan maksiat.”
Demikianlah buruknya pengaruh maksiah terhadap hafalan. Maksiat berdampah buruk pada daya ingat otak. Maksiat melemahkan kecerdasan otak. Makin sering seseorang bermaksiat semakin tumpul pula ingatnya. Maksiat membuat apa yang tersimpan di otak hilang secara perlahan.
Saya yakin, masing-masing kita pernah berbuat dosa. Karena kita adalah manusia bukan malaikat yang selalu taat dan tak pernah bermaksiat. Mari sama-sama berusaha meninggalkan maksiat. Segera gempur dosa-dosa yang pernah kita lakukan dengan melazimi istighfar. Tidak ada dosa besar bila setiap saat digempur dengan istighfar. Allah maha mengambuni hamba yang bertaubat kepada-Nya. Jika tidak segera bertaubat, Jangan salahkan Allah bila Allah mencabut apa yang pernah kita hafal.
Al-Qur’an adalah cahaya, sedangkan dosa adalah kotoran, mustahil cahaya yang suci bersatu dengan kotoran. Untuk membersihkan kotoran dalam jiwa, kita harus membasuhnya dengan ketaatan yang lebih besar. Ketaatan akan menguatkan hafalan Anda. Semakin tinggi nilai kesehatan Anda, maka semakin kuat pula hafalannya.
- Murajaah Setiap Waktu
Menghafal Al-Qur’an tidak bisa dipisahkan dari murajaah (mengulang) hafalan. Murajaah adalah cara utama untuk mengikat hafalan supaya tidak terlepas. Tanpa murajaah hafalan akan berangsur-angsur hilang, sedikit demi sedikit. Mulai dari yang 1 juz hingga yang 30 juz, jika tidak diulang maka hafalan itu akan hilang. Tidak mungkin hafalan terus tersimpan di memori otak tanpa pengulangan yang rutin.
Keisimewaan seorang hafizh, ia bisa mengulang hafalannya kapan saja, dimana saja dan dalam kondisi bagaimanapun. Seorang hafizh bisa murajaah setiap waktu; pagi, siang, sore, dan petang. Murajaah bisa dilakukan disemua keadaan; baik itu sambil duduk, berdiri, berjalan dan berbaring sekali pun. Murajaah bisa dengan cara mendengarkan murattal atau melantunkan sendiri ayat-ayat yang pernah dihafal.
Murajaah adalah gaya hidup seorang hafizh. Salah besar orang yang mengatakan, “Saya sudah hafal Al-Qur’an, jadi tidak perlu mengulang hafalan lagi,” karena sesungguhnya puncak menghafal adalah pada murajaahnya.
Murajaah adalah kunci sukses menjaga hafalan. Berapa lama anda menghafal tidak terlalu penting untuk dipersoalkan. Yang terpenting sejauh mana keistiqamahan Anda mengulang yang pernah Anda hafalkan. Menghafal 30 Juz boleh sebulan, tapi murajaahnya harus istiqamah. Menghafal selama dua tahun saja kalau murajaahnya hanya sebulan, perlahan tapi pasti hafalan itu akan hilang.
Seorang penjaga firman Allah memang dituntut untuk mengalokasikan waktunya khusus untuk Al-Qur’an. Ia tidak akan pernah rugi karena mengorbankan waktunya demi Al-Qur’an. Semakin banyak waktu yang ia luangkan untuk murajaah hafalannya, semakin tinggi pula kedudukannya di sisi Rabbnya.
Untuk menjaga keistiqamahan, idealnya yaitu dengan membuat tabel murajaah. Ini untuk mengevaluasi bila sewaktu-waktu ada penurunan semangat. Murajaah bisa dibuat dengan target harian, mingguan, atau bulanan. Bagi yang sudah selesai 30 juz, standarnya sehari 1 juz murajaah. Bagiyang belum maka disesuaikan dengan jumlah hafalannya sambil menambah hafalan baru. Minimal setiap hari mengulang hafalan. Jangan sampai berlalu satu hari oun tanpa murajaah. Buatlah tulisan “Tiada Hari Tanpa Murajaah!” tempel di dinding kamar tidur atau tempat lain yang mudah dilihat. Sebagaimana dulu Anda memajang target hafalan harian di dinding kamar tidur.
- Membaca hafalan di Waktu Shalat
Untuk mengetahui bacaan yang salah, hafalan bisa disetorkan langsung kepada seorang guru. Sementara untuk menguatkan hafalan bisa dengan membacanya saat shalat, baik shalat sunnah maupun wajib. Ust. Syahbuddin Capah, teman saya di Karantina Tahfizh mengistilahkannya dengan setoran langsung kepada Allah Swt.
Hafalan sangat bagus diulang ketika shalat tahajud, di 1/3 malam. Selain karena suasananya sunyi dan menambah kekhusyukan, di waktu ini anda juga bisa membaca banyak ayat.
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
“Pada sebagian malam bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-Mudahan Tuhan-Mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isra’ [17]: 79)
“Apabila seorang penghafal Al-Qur’an shalat lalu ia membaca hafalannya pada malam dan siang hari, niscaya ia akan senantiasa mengingatnya. Namun, jika ia tidak melakukan hal itu, niscaya ia akan melupakannya.”(HR.Muslim)
Berusahalah membaca surah atau ayat-ayat baru setiap shalat. Dengan membaca hafalan baru, shalat akan terasa lebih variatif, semakin nikmat, dan tidak monoton. Indahkanlah suara ketika membaca ayat-ayat-Nya. Resapilah makna dan kandungannya agar menambah keindahan bacaan l-qur’an serta kekhusyukan pada jiwa.
“Sesungguhnya orang yang paling baik suaranya dalam membaca Al-Qur’an adalah orang yang bila kalian mendengarkan bacaannya maka kalian akan menganggapnya sebagai orang yang takut kepada Allah Swt.” (HR. Ibnu Majah)
Yang dimaksud bacaan indah di sini bukan sebatas suara yang merdu, tapi sesuai dengan kaidah tajwid sehingga mampu menambah kekhusyukan qari’ dan orang yang mendengarkannya.
- Bergabung Halaqah Tahfiz
Bergabung dengan halaqah tahfizh juga sangat penting demi terjaganya hafalan. Di sana Anda pasti mendapatkan banyak pengalaman tentang Al-Qur’an. Halaqah tahfizh merupakan pusat berbagi ilmu, pengalaman dan motivasi, khususnya tentang Al-Qur’an. Di sana juga Anda akan menemukan partner seperjuangan dengan misi yang sama, yaitu menjaga kitab Allah Swt.
Tidak dipungkiri tatkala murajaah sendirian semangat seringkali menurun drastis. Anda mungkin saja merasa kesulitan harus mengadu kepada siapa. Karena itu bergabung dengan kafilah penghafal Al-Qur’an adalah solusi jitu untuk menjaga hafalan juga semangat dalam murajaah. Di majelis tahfizh para peserta bisa saling memberi semangat, saling menyimak bacaan dan saling membantu dalam segalaurusan yang positif.
Tinggalakn sejenak urusan duniawi. Bergabunglah bersama halaqah tahfzh dan nikmatilah kebersamaan bersama penjaga firman Allah Swt.
- Selalu Bersama Al-Qur’an
Sudah hafal Al-Qur’an tidak lantas membuat Anda tidak memerlukan mushaf. Tentu masih banyak kekurangan yang perlu disempurnakan dari hafalan Anda. Bawalah mushaf selalu. Mushaf kecl lebih mudah dibawa kemana-mana. Mushaf akan selalu anda butuhkan terutama saat lupa, Anda perlu membukanya kembali untuk melihat ayat yang terlupa.
Selain mushaf, ada anyak sekali saranaagar anda selalu bersama Al-Qur’an. Ada MP3 player, Speaker Al-Qur’an, dan sarana lainnya. Belum lagi teknologi smart phone yang semakin canggih. Ini dapat anda maksimalkan agar selalu membersamai Al-Qur’an. Instal beberapa aplikasi al Qur’an untuk menemani disetiap waktu dan keadaan.
Nah saudaraku seiman, biarlah jasad sibuk bekerja, tetapi lisan Anda tetap melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, Telinga tetap mendengar murattal, dan hati merenungi kandungannya. Bersama deraplangkah hidup yang dihiasi Al-Qur’an Allah akan kucurkan rahmat-Nya kepada Anda. Semoga
- Berusaha Mengamalkannya
Mengamalkan kandungan Al-Qur’an sesungguhnya adalah tujuan utama menghafal Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan sekedar untuk dihafal kemudian disimpan di dalam dada, tetapi untuk didalami maknanya dan diaplikasikan dalam kehidupan. Al-Qur’an adalah panduan hidup yang akan menmbimbing ahlinya menuju keselamatan hakiki.
“Al-Qur’an adalah pemberi dan sarana datangnya syafaat pembela sekaligus pembenar. Barang siapa yang meletakan Al-Qur’an di depannya (menjadikannya sebagai petunjuk), niscaya ia akan mengarahkan ke surga. Sebaliknya, barang siapa yang meletakannya di belakangnya (meninggalkannya), niscaya ia akan menggiringnya ke neraka.” (HR. Ibnu Hibban, Baihaqi dan Nasa’i)
Guru kami pernah memberi nasihat indah nan berharga, beliau bilang, “Gelar Al-Hafizh adalah gelar agung, jangan sampai kamu hijrah dari Al-Qur’an. Apalah artinya gelar Al-Hafizh yang kamu sandang jika hatimu justru menjauh dari Al-Qur’an” Hijrah dari Al-Qur’an yang beliau maksud ialah tidak membaca, mempelajari, serta enggan mengamalkannya.
Ternyata tugas seorang hafizh bukan hanya menghafal lafadz Al-Qur’an. Seorang hafizh Qur’an memikul tanggung jawab besar, ia harus selalu mempelajari Al-Qur’an, memahami maknanya dan berupaya mengamalkannya. Dia juga dituntun untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Qur’ani di mana pun dan kapan pun.
Meskipun demikian, jangan pernah menjadikan kekhawatiran tidak mampu mengamalkan sebagai alasan untuk tidak menghafal Al-Qur’an. Menghafalah, karena dengan menghafal Anda akan memiliki ikatan erat dengan Al-Qur’an sehingga ada yang mengerem tatkala hati cenderung ingin berbuat dosa. Toh tidak hafal Al-Qur’an juga bukan jaminan kita terbebas dari dosa.
“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an iti sesuatu yang tidak diacuhkan.” (Al-Furqan [25]: 30)